Undip Rekomendasikan Integrasi Darat dan Pesisir Semarang-Demak
- 10 Des 2025 14:15 WIB
- Semarang
KBRN, Semarang: Departemen Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) Fakultas Teknik Universitas Diponegoro (Undip) merekomendasikan integrasi antara wilayah darat dan pesisir atau Ec(h)otones. Rekomendasi itu diungkap dalam kegiatan Spatial Methods for Urban Sustainability (SMUS) dan Policy Brief di Departemen PWK Fakultas Teknik Undip, Rabu (10/12/2025).
Ketua Departemen Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Undip, Prof. Dr.-Ing Wiwandari Handayani mengatakan, Undip menjadi bagian dari jejaring Global Center of SMUS. Pihaknya telah mengkaji karakteristik, dinamika, dan permasalahan di kawasan ecotone pesisir Semarang dan Demak.
"Kita ketahui bersama, pesisir masih menjadi persoalan di Jawa Tengah, terutama Semarang-Demak. Itu menjadi case kita dengan SMUS dan Technische Universität Berlin, kita juga kerja sama dengan Brida untuk menyusun rekomendasi kebijakan,” katanya.
Prof. Wiwandari menerangkan, wilayah pesisir masih menghadapi banyak masalah, di antaranya banjir, rob dan isu-isu lingkungan lainnya. “Kami berusaha menjelaskan apa yang terjadi dan kira-kira ke depan akan menjadi seperti apa, itu yang menjadikan rekomendasi kebijakan,” ucapnya.

Ia menegaskan, yang terpenting adalah bagaimana mendorong penataan ruang yang lebih terintegrasi antara ruang laut dan ruang darat. “Kita merekomendasikan bagaimana itu terintegrasi dari darat ke laut dan dari kota ke desa,” katanya.
Menurutnya, integrasi ini terkait tata ruang dan kebijakan pembangunan laut maupun daratnya. “Integrasi juga harus dikaitkan dengan sektor-sektor, tidak hanya infrastruktur yang jalan sendiri, pemukiman jalan sendiri,” ujarnya.
Sementara itu, pakar perencanaan dan wilayah kota Undip, Prof. Iwan Rudiarto mengungkapkan, kajian ini sudah dilakukan sejak tahun 2000-2025. “Ternyata banyak wilayah daratan yang berada di Demak dan Kota Semarang sudah mengalami degradasi, wilayah daratan bertransformasi menjadi wilayah air,” ungkapnya.
Pihaknya berusaha mengenali tiga aspek, yaitu segi fisik, lingkungan dan gaya hidup masyarakat untuk merumuskan strategi. Dari sisi infrastruktur, ia merekomendasikan adaptasi struktural, yaitu yang sudah biasa dilakukan oleh masyarakat, namun ada bentuk yang terintegrasi dengan lingkungan.
Ia menceritakan, Desa Timbulsloko, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak menjadi desa percontohan yang telah beradaptasi dengan membangun rumah apung. Melihat perkembangan saat ini, menurutnya, ke depan harus dilakukan mitigasi lebih terukur sebagai upaya penanggulangan secara bersama-sama.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....